Pembelajaran Kooperatif, (Pengertian, Prinsip-Prinsip, Tujuan, Karakteristik KD yang sesuai, Langkah Langkah)

Hari yang indah, sangat baik untuk melanjutkan pembelajaran kita. Materi yang akan kita bahas saat ini adalah Metode Pembelajaran Kooperatif. Kita akan bahas mulai dari pengertian pembelajaran kooperatif, prinsip-prinsip pembelajaraan kooperatif, tujuan pembelajaran kooperatif, karakteristik Kompetensi (KD) yang sesuai dengan pembelajaran kooperatif, langkah-langkah pembelajaran kooperatif sekaligus contoh pelaksanaan pembelajaran kooperatif.


Pembelajaran Kooperatif, (Pengertian, Prinsip-Prinsip, Tujuan, Karakteristik KD yang sesuai, Langkah Langkah dan contoh pembelajaran kooperatif)


1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif


Kooperatif mempunyai arti “bersifat kerja sama” atau “bersedia membantu” (Depdiknas, 2008). Pembelajaran Kooperatif merupakan suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dalam kelompokkelompok kecil (umumnya terdiri dari 4-5 orang siswa) dengan keanggotaan yang heterogen (tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan suku/ras berbeda) (Arends, 2012). 

Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Oleh karena itu, Pembelajaran Kooperatif perlu dikembangkan karena pada saat penerapan Pembelajaran Kooperatif siswa berlatih berbagai keterampilan kooperatif (keterampilan sosial) sesuai dengan tuntutan kompetensi pada Kurikulum 2013 yaitu kompetensi sikap sosial, selain kompetensi sikap spiritual, pengetahuan, dan keterampilan.

Agar pembelajaran terlaksana dengan baik, siswa harus diberi lembar kegiatan (LK), yang dapat berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok berlangsung, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan materi.

Pembelajaran Kooperatif memiliki lima variasi model yang dapat diterapkan, yaitu, yaitu Student Teams Achievement Divisions (STAD), Jigsaw, Group Investigation, Think Pair Share, Numbered Heads Together (Arends, 2012). Penjelasan lebih lanjut variasi-variasi model tersebut diuraikan pada bagian selanjutnya dalam panduan ini.

2. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif


Ada lima prinsip Pembelajaran Kooperatif, yang diuraikan sebagai berikut.

• Saling ketergantungan positif, yaitu siswa saling berkaitan dengan siswa lain dalam kelompoknya untuk mencapai suatu tujuan. Pencapaian tujuan dicapai melalui upaya bersama berdasarkan prinsip “saya memerlukan kamu dan kamu memerlukan saya untuk bisa mencapai tujuan”. Siswa berbagi peran dan tugas, satu sama lain saling bergantung, dan keberhasilan seseorang akan menentukan keberhasilan siswa lainnya. 

• Akuntabilitas individual, yaitu siswa belajar bersama, tetapi setiap individu dituntut untuk mempertanggungjawabkan hasil belajarnya. Ini berarti satu upaya dari seorang siswa akan mempengaruhi upaya siswa lain. Setiap tujuan pembelajaran harus jelas dan dapat dipahami siswa serta ada keyakinan bahwa siswa akan mampu melakukannya. Ketika siswa berhasil mencapai tujuan secara berkelompok, siswa juga berhasil secara individual.

• Interaksi promotif di antara sesama siswa, yaitu kegiatan kognitif dan interpersonal siswa secara dinamis terjadi karena setiap siswa mendorong siswa lainnya untuk belajar. Contoh kegiatan tersebut adalah penjelasan bagaimana memecahkan masalah, mendiskusikannya, dan menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang baru didapat. Ini terjadi bilamana interaksi promotif sesama siswa terbangun dan dijadikan komitmen untuk meraih pencapaian tujuan bersama.

• Keterampilan kolaboratif adalah keterampilan siswa dalam mendengar siswa lain, memecahkan konflik, mendukung dan memotivasi siswa lain, mengambil inisiatif, menunjukkan ekspresi senang manakala siswa lain berhasil, dan mampu mengkritisi ide gagasan siswa lain (bukan mengkritisi orangnya). Keterampilan seperti ini perlu ditunjukkan oleh siswa secara kolaboratif. Guru perlu membuat pernyataan verbal secara jelas, menjadi model, dan mengecek pemahaman siswa melalui berbagai pertanyaan.

• Dinamika kelompok merupakan tingkah laku sebagai bentuk interaksi antaranggota kelompok, pemimpin kelompok, dan antarkelompok satu dengan yang lain. Kekuatan yang muncul dari dinamika kelompok adalah membentuk kerjasama yang saling menguntungkan dalam mengatasi permasalahan hidup, menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, berinteraksi, dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat.

3.Tujuan Pembelajaran Kooperatif


Pembelajaran Kooperatif sangat berbeda dengan jenis pembelajaran yang lain. Pembelajaran ini dikembangkan untuk mencapai paling sedikit tiga tujuan penting, yaitu (1) hasil belajar akademik, (2) toleransi dan penerimaan terhadap keragaman, dan (3) pengembangan keterampilan sosial.

a. Hasil Belajar Akademik

Beberapa ahli (Slavin, 2009) berpendapat bahwa Pembelajaran Kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pendukung Pembelajaran Kooperatif percaya bahwa struktur penghargaan kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Pembelajaran Kooperatif juga dapat mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar. 

Dalam banyak kasus, norma budaya anak muda sebenarnya tidak menyukai siswa-siswa yang ingin menonjol secara akademik. Slavin dan pakar lain telah berusaha untuk mengubah norma ini melalui penggunaan Pembelajaran Kooperatif sehingga membuat prestasi tinggi dalam tugas-tugas akademik lebih dapat diterima.

Selain mengubah norma yang berhubungan dengan prestasi akademik, Pembelajaran Kooperatif dapat memberi keuntungan bagi siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah. 

Jadi, mereka yang di kelompok bawah memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.

b. Toleransi dan Penerimaan terhadap Keragaman

Tujuan penting kedua dari Pembelajaran Kooperatif adalah toleransi dan penerimaan yang lebih luas terhadap keragaman siswa, seperti perbedaan ras, budaya, status sosial, atau kemampuannya. 

Pembelajaran Kooperatif memberikan kesempatan kepada siswa dengan latar belakang dan kondisi yang beragam untuk bekerja secara interdependen (saling bergantung) pada tugas yang sama, melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk saling menghargai.

c. Pengembangan Keterampilan Sosial

Tujuan penting lain dari Pembelajaran Kooperatif adalah untuk melatihkan keterampilan sosial atau keterampilan kooperatif, terutama keterampilan kerjasama. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki saat hidup bermasyarakat di mana sebagian besar profesi dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan masyarakat yang budayanya semakin beragam.

Sementara itu, banyak pemuda dan orang dewasa kurang memiliki keterampilan sosial yang efektif. Kondisi ini dibuktikan dengan sering terjadinya pertikaian kecil antara individu yang dapat mengakibatkan tindak kekerasan atau betapa seringnya orang menyatakan ketidakpuasan pada saat diminta untuk bekerja dalam situasi-situasi kooperatif.

Keterampilan kooperatif (keterampilan sosial) berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. 

Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan. Sebagai suatu keterampilan belajar,keterampilan kooperatif ternyata memiliki tingkat-tingkat, yaitu tingkat awal, tingkat menengah, dan tingkat mahir (Lundgren, 1994). 

Dalam setiap tingkat terdapat beberapa keterampilan yang perlu dimiliki siswa agar dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan baik.

1) Keterampilan kooperatif tingkat awal
• Menggunakan kesepakatan
• Menghargai kontribusi
• Menggunakan suara pelan
• Mengambil giliran dan berbagi tugas
• Berada dalam kelompok
• Berada dalam tugas
• Mendorong partisipasi
• Mengundang orang lain untuk berbicara
• Menyelesaikan tugas tepat pada waktunya
• Menyebut nama dan memandang pembicara
• Menghormati perbedaan individu

2) Keterampilan kooperatif tingkat menengah
• Menunjukkan penghargaan dan simpati
• Mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima
• Mendengarkan dengan aktif
• Bertanya
• Mengatur dan mengorganisir
• Menerima tanggung jawab
• Tetap tenang/mengurangi ketegangan

3) Keterampilan kooperatif tingkat mahir
• Memeriksa dengan cermat
• Menanyakan kebenaran
• Menetapkan tujuan
• Berkompromi

Berdasarkan hasil penelitian (Slavin, 1995) Pembelajaran Kooperatif mempunyai manfaat antara lain: 
(1) meningkatkan pencurahan waktu pada tugas; 
(2) meningkatkan rasa harga diri; 
(3) memperbaiki sikap terhadap mata pelajaran, guru, dan sekolah; 
(4) memperbaiki kehadiran;
(5) saling memahami adanya perbedaan individu; 
(6) mengurangi konflik antar pribadi; 
(7) mengurangi sikap apatis; 
(8) memperdalam pemahaman; 
(9) meningkatkan motivasi; 
(10) meningkatkan hasil belajar; dan 
(11) memperbesar retensi. 

Selain itu, Woolfolk (2010) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif meningkatkan kemampuan memandang dunia dari cara pandang orang lain, hubungan lebih baik antara kelompok etnis yang berbeda di sekolah atau di kelas, rasa percaya diri, penerimaan yang lebih besar terhadap siswa cacat dan berkemampuan rendah. Interaksi dengan teman sebaya yang amat disukai siswa menjadi bagian dari proses belajar. Kebutuhan untuk diterima dalam kelompoknya cenderung lebih dipenuhi.

4. Karakteristik KD dan Indikator Pencapaian Kompetensi yang Sesuai dengan Pembelajaran Kooperatif


Berdasarkan tujuan penggunaan Pembelajaran Kooperatif yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, pada dasarnya semua KD dalam KI-3 dapat dicapai dengan menerapkan Pembelajaran Kooperatif. Muatan KD dalam KI-3 merupakan hasil belajar akademik. 

Di samping itu, penggunaan Pembelajaran Kooperatif diperuntukkan bagi guru yang ingin melatihkan keterampilan sosial atau keterampilan kooperatif seperti yang diamanatkan dalam KI-2.

5. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif


Secara umum, ada enam langkah utama atau fase dalam pembelajaran yang menggunakan metode Pembelajaran Kooperatif (Arends, 2012). Langkah-langkah dalam metode Pembelajaran Kooperatif ditunjukkan pada Bagan 3.

Bagan 3. Langkah-langkah dalam Metode Pembelajaran Kooperatif
Bagan 3. Langkah-langkah dalam Metode Pembelajaran Kooperatif

Ada beberapa tipe Pembelajaran Kooperatif, dan dalam panduan ini hanya akan disajikan tiga tipe, yaitu: STAD, TGT, dan Jigsaw. Meskipun Pembelajaran Kooperatif memiliki beberapa tipe, namun pada dasarnya semua tipe memiliki enam fase tersebut.

a. Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa

Pada umumnya, Fase 1 dalam pembelajaran kooperatif tidak berbeda dengan yang berlaku untuk jenis (baca: model/pendekatan/metode, dll.) pembelajaran lainnya. 

Guru yang profesional memulai pembelajaran dengan mereviu pelajaran sebelumnya, menyampaikan tujuan pembelajaran dengan bahasa yang dapat dimengerti siswa, menunjukkan
kaitan pelajaran yang akan dipelajari dengan pelajaran sebelumnya, menjelaskan pentingnya pelajaran tersebut untuk dipelajari, dan yang lebih penting lagi adalah memotivasi siswa untuk belajar. 

Motivasi merupakan salah satu unsur paling penting yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berjalan secara efektif (Arends, 2012; Brophy, 2004; Palmer, 2005; Slavin, 2009).

Siswa yang termotivasi untuk mempelajari sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik (Slavin, 2009).

Penyampaian tujuan pembelajaran termasuk kriteria kesuksesan siswa juga merupakan hal penting yang perlu dilakukan oleh guru. Sulit bagi siswa untuk mengerjakan sebuah tugas dengan baik bila tidak jelas bagi mereka mengapa mereka harus mengerjakan tugas itu atau bila kriteria kesuksesannya dirahasiakan.

b. Menyajikan Informasi

Pada bagian ini tugas guru adalah menyajikan informasi kepada siswa secara verbal, melalui demonstrasi, atau bahan bacaan. Jika guru menyajikan informasi secara verbal, guru perlu mempersiapkan materi presentasinya dengan membuat peta konsep atau menggunakan gambar dan ilustrasi. Bahan presentasi tersebut dapat dipersiapkan dalam bentuk PPT atau poster. 

Jika guru meminta siswa untuk membaca teks, guru bertanggung jawab untuk membantu siswa agar dapat menjadi pembaca yang lebih baik. Guru dapat meminta siswa membaca teks (buku) dengan menerapkan strategi belajar, misalnya menggarisbawahi kata-kata penting, membuat catatan tepi, membuat rangkuman, dan lain lain. 

Penyajian informasi pada Fase 2 dalam Pembelajaran Kooperatif ini tidak dimaknai bahwa guru menghabiskan waktu pembelajarannya dengan menyampaikan dengan ceramah tentang materi pelajaran kepada siswa. 

Pada fase ini, informasi yang perlu disajikan oleh guru adalah informasi yang memang diperlukan siswa untuk menyelesaikan tugastugas atau mengerjakan LK sebagai bahan diskusi pada Fase 4.

c. Mengorganisasikan Siswa ke dalam Kelompok-kelompok Belajar

Pada fase ini guru membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. Proses pengelompokan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar merupakan salah satu langkah sulit bagi guru pemula atau guru yang baru menerapkan Pembelajaran Kooperatif. 

Fase ini dapat menimbulkan kekacauan bila transisinya tidak direncanakan dan dikelola secara cermat. Beberapa strategi sederhana, namun dapat digunakan oleh guru untuk membuat transisi berjalan lancar, antara lain:
  • Menuliskan langkah-langkah kuncinya di papan tulis atau dalam bentuk bagan. 
  • Memberikan pengarahan dengan jelas dan meminta dua atau tiga orang siswa mengulangi pengarahan itu. 
  • Mengidentifikasi dan memberikan tanda yang jelas pada lokasi setiap kelompok belajar.


d. Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar

Tugas-tugas dalam Pembelajaran Kooperatif yang tidak terlalu rumit memungkinkan siswa untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan sedikit bantuan guru. Untuk tugas-tugas yang lebih rumit atau kompleks, guru mungkin perlu mendampingi kelompok-kelompok belajar itu, mengingatkan tentang tugas-tugas yang akan mereka kerjakan dan waktu yang dialokasikan untuk setiap langkahnya. 

Namun, jika guru terlalu banyak intervensi dan memberi bantuan tanpa diminta oleh siswa,
guru tersebut dapat mengganggu siswa. Hal ini juga menghilangkan kesempatan inisiasi dan self-direction siswa. Apabila siswa tidak jelas tentang pengarahan yang diberikan guru atau tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang direncanakan, intervensi langsung dan bantuan guru dibutuhkan.

e. Melakukan Evaluasi

Pada fase ini guru melakukan evaluasi terhadap materi yang telah dipelajari atau meminta masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Sistem evaluasi Pembelajaran Kooperatif berbeda dengan sistem evaluasi yang digunakan oleh jenis pembelajaran yang lain.

Suatu tantangan khusus bagi guru yang menerapkan Pembelajaran Kooperatif adalah bagaimana memberi nilai siswa berdasarkan duaduanya, yaitu hasil belajar kelompok dan individu. Salah satu solusi untuk mengatasi dilema tersebut adalah guru dapat memberikan dua penilaian bagi siswa, yaitu satu untuk upaya kelompok dan satu untuk tiap sumbangan seseorang individu.

Tabel Menunjukkan sebuah contoh lembar skor kuis beserta skor perkembangan (peningkatan) untuk setiap individu siswa.

tabel Lembar Skor Kuis dan Skor Perkembangan Siswa
tabel Lembar Skor Kuis dan Skor Perkembangan Siswa

Adapun prosedur untuk menghitung skor perkembangan siswa ditunjukkan
pada Tabel berikut ini

tabel Prosedur Menghitung Skor Perkembangan

tabel Prosedur Menghitung Skor Perkembangan

Besar poin yang disumbangkan setiap siswa kepada kelompoknya ditentukan oleh seberapa besar skor siswa melampaui skor kuis siswa sebelumnya. Siswa dengan pekerjaan sempurna mendapatkan poin perkembangan maksimum, tanpa memperhatikan skor dasar mereka.

Sistem perkembangan individual ini memberikan setiap siswa suatu kesempatan untuk menyumbang poin maksimum kepada kelompoknya jika siswa itu melakukan yang terbaik sehingga menunjukkan peningkatan perkembangan substansial atau mencapai pekerjaan sempurna.

f. Memberikan Penghargaan

Pada fase ini, guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya dan prestasi individual maupun kelompok. Tugas penting lain yang unik untuk Pembelajaran Kooperatif adalah pemberian penghargaan pada upaya dan prestasi siswa, baik secara individu maupun kelompok.

Dalam memberikan penghargaan (pengakuan) terhadap prestasi kelompok, terdapat tiga (3) tingkat penghargaan, seperti contoh berikut ini.

  • 1) Kelompok dengan rata-rata skor perkembangan minimal 15 poin, sebagai “Kelompok Baik” (Good Team). 
  • 2) Kelompok dengan rata-rata skor perkembangan minimal 20 poin, sebagai “Kelompok Hebat” (Great Team).
  • 3) Kelompok dengan rata-rata skor perkembangan minimal 25 poin, sebagai “Kelompok Super” (Super Team).


Berikut ini contoh menghitung rata-rata skor perkembangan (sesuai dengan contoh dalam Tabel 9 dari kelima anggota kelompok). Berdasarkan data pada Tabel 9 di atas, rata-rata skor perkembangan kelompok


Kelompok dengan rata-rata skor perkembangan sebesar 18 ini mendapat penghargaan dengan predikat “Kelompok Baik” (Good Team). Guru boleh memberikan sertifikat bagi kelompok atau kelompok yang masuk dalam kriteria (predikat) Great Team atau Super Team.

Good Team cukup diberi ucapan selamat dalam kelas. Selain sertifikat, sebagai gantinya, guru dapat mengumumkan “Kelompok Terbaik” pada papan buletin (media dinding), menempelkan foto-foto mereka atau nama kelompok mereka sebagai penghormatan. 

Apapun cara guru menghargai keberhasilan kelompok sangatlah penting artinya untuk mengomunikasikan bahwa keberhasilan kelompok (bukan hanya sukses individu) itu penting karena hal ini yang mendorong siswa untuk membantu teman satu kelompok dalam belajar.

Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, terdapat beberapa variasi metode pembelajaran tersebut. Beberapa variasi dalam pembelajaran kooperatif tersebut diuraikan sebagai berikut.

a. Student Teams-Achievement Division (STAD)

STAD atau Kelompok Siswa-Divisi Prestasi merupakan jenis Pembelajaran Kooperatif yang paling sederhana. Dalam STAD siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-5 orang, dan setiap kelompok haruslah heterogen. 

Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa diberi kuis tentang materi itu. 

Pada saat mereka mengerjakan kuis, mereka tidak boleh saling membantu. Perolehan skor siswa dibandingkan dengan rata-rata skor sebelumnya. Poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampaui prestasi sebelumnya. 

Poin setiap anggota kelompok ini dijumlah untuk mendapatkan skor kelompok, dan kelompok yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau bentuk penghargaan lain. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif tipe STAD mengikuti fase-fase seperti yang ditunjukkan pada Bagan 3. Pada dasarnya, langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif seperti yang ditunjukkan Bagan 3 tersebut merupakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD.

b. Teams-Games-Tournaments (TGT)

TGT atau Pertandingan-Permainan-Kelompok merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang berkaitan dengan STAD. Dalam TGT, siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota kelompok lain untuk memperoleh tambahan poin pada skor kelompok mereka.

Permainan disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang diperoleh siswa dari penyampaian materi pelajaran di kelas dan kegiatan-kegiatan kelompok. Permainan itu dimainkan pada meja-meja turnamen. 

Setiap meja turnamen dapat diisi oleh wakil-wakil kelompok yang berbeda, namun yang memiliki kemampuan setara. Permainan itu berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap-tiap siswa akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. 

Turnamen ini memungkinkan siswa menyumbang skor maksimal bagi kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Turnamen ini dapat berperan sebagai reviu materi pelajaran. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TGT ini mengikuti fase-fase seperti yang ditunjukkan pada Bagan 3. 

Kegiatan “Pertandingan” antarkelompok untuk tipe TGT ini dilakukan dalam Fase 5 (Evaluasi). Dalam tipe TGT, kegiatan pembelajaran mirip dengan tipe STAD hanya saja dalam Fase 5 ditambahkan kegiatan “Pertandingan” antar kelompok.

c. Jigsaw

Dalam penerapan jigsaw, siswa berkelompok dengan anggota 5 atau 6 orang heterogen (lebih tepatnya, sesuai dengan jumlah pembagian sub-bab materi). Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub-bab.

Sebagai misal, bab Zat dan Wujudnya dalam mata pelajaran IPA dapat dibagi menjadi sub-bab: massa jenis zat, zat padat, zat cair, zat gas, serta panas dan gerak partikel. Setiap anggota kelompok ditugaskan dan bertanggung jawab mempelajari bagian sub-bab yang diberikan.

Anggota dari kelompok lain yang ditugasi mempelajari sub-bab yang sama bertemu dalam “Kelompok-kelompok Ahli” untuk mendiskusikan sub-bab mereka. Setelah itu para siswa kembali ke “Kelompok Asal” mereka dan bergantian mengajar teman satu kelompok mereka tentang sub-bab mereka. 

Satu-satunya cara siswa dapat belajar sub-bab lain selain dari sub-bab yang mereka pelajari adalah dengan mendengarkan secara sungguh-sungguh terhadap teman satu kelompok mereka. Setelah selesai pertemuan dan diskusi Kelompok Asal, siswa-siswa diberi kuis secara individu tentang materi pembelajaran. Skor kelompok menggunakan prosedur skoring yang disajikan pada Tabel 10. Pengelompokan siswa dalam Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw disajikan pada Gambar 1.

Struktur kelompok dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Struktur kelompok dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw ini mengikuti fase-fase seperti yang ditunjukkan pada Bagan 3, namun ada sedikit modifikasi terkait struktur kelompok (Kelompok Ahli dan Kelompok Asal). 

Pada saat guru melaksanakan kegiatan Fase 3 (Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar), aktivitas guru adalah membentuk Kelompok Asal. Setelah itu, guru membentuk Kelompok Ahli. Kegiatan diskusi dalam Kelompok Ahli dan dalam Kelompok Asal merupakan aktivitas guru saat Fase 4 (Membimbing kelompok bekerja dan belajar).

1. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berdasarkan Pembelajaran Kooperatif untuk Setiap Fase
Pada bagian ini diberikan contoh kegiatan pembelajaran berdasarkan fase-fase Pembelajaran Kooperatif untuk Mata Pelajaran IPA. Dalam contoh ini diambil KD 3.1, yaitu: “ Menerapkan konsep pengukuran berbagai besaran dengan menggunakan satuan standar (baku).”

Untuk menuntaskan materi dalam KD tersebut, guru dapat mengalokasikan waktu 2 x 5 jp (10 jp). Contoh yang disajikan di sini direncanakan untuk pertemuan terkait sub materi Besaran Turunan (alokasi waktu 3 jp). Guru mata pelajaran lain dapat menyesuaikan kontennya, namun fase-fase Pembelajaran Kooperatif tetap harus diikuti. Secara lebih rinci, contoh penerapan Pembelajaran Kooperatif dapat dilihat pada lampiran.

Berikut disajikan langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif untuk sub materi Besaran Turunan.

a. Fase 1: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Berikut merupakan contoh kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
  • Menunjukkan selembar kertas kepada siswa dan menanyakan kepada siswa “Bagaimana cara menentukan luas kertas tersebut?” 
  • Meminta siswa untuk memperhatikan bentuk ruang kelas dan menanyakan kepada siswa “Bagaimana cara menentukan luas lantai ruang kelas tersebut?” 
  • Menyampaikan indikator/tujuan pembelajaran yang perlu dicapai dalam pembelajaran. 
  • Menjelaskan pentingnya mempelajari materi Besaran Turunan (Luas Bidang), misalnya digunakan untuk menentukan luas tanah pekarangan.


b. Fase 2: Menyajikan Informasi

Berikut merupakan contoh kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
  • Meminta siswa membaca Buku Siswa (materi Besaran Turunan) dan menggarisbawahi kata-kata penting pada buku tersebut.
  • Menanyakan kepada siswa tentang kata-kata penting yang telah digarisbawahi. 
  • Menanyakan kepada siswa: “Apakah yang dimaksud besaran turunan?” 
  • Meminta siswa untuk memberikan contoh besaran turunan dan cara mengukur besaran turunan tersebut. 
  • Menanyakan kepada siswa: “Bagaimana cara menentukan luas bidang yang tidak beraturan?”


c. Fase3: Mengorganisasikan Siswa ke dalam Kelompok-kelompok Belajar

Berikut ini merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
  • Membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 4 – 5 orang, dengan keanggotaan yang heterogen. 
  • Membagikan LK “Menentukan Luas Daun” kepada siswa dalam setiap kelompok. 
  • Meminta setiap perwakilan kelompok mengambil alat dan bahan yang diperlukan untuk mengerjakan LK (kertas milimeter, penjepit, dan pensil). 
  • Mengingatkan siswa agar bekerja sama, bertanggung jawab, dan teliti selama mengerjakan LK.


d. Fase 4: Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar

Berikut ini merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
  • Membimbing siswa secara berkelompok melakukan pengukuran luas daun menggunakan kertas milimeter, penjepit dan pensil sesuai dengan petunjuk pada LK “Mengukur Luas Daun”. 
  • Memastikan bahwa setiap siswa dalam kelompok telah memahami petunjuk yang dimaksudkan dalam LK. 
  • Membimbing setiap kelompok yang mengalami kesulitan dalammenyelesaikan tugas dalam LK. 
  • Meminta siswa melakukan diskusi kelompok terkait hasil pengukurannya dan memastikan bahwa semua anggotanya telah mengisi LK. 
  • Membimbing setiap kelompok membuat poster untuk menampilkan hasil kerjanya pada kertas plano yang disiapkan guru.


e. Fase 5: Melakukan Evaluasi

Berikut inimerupakancontoh kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
  • Meminta setiap kelompok menempelkan posternya pada tempat yang telah disediakan guru. 
  • Meminta setiap kelompok mempresentasikan posternya dan kelompok lain diminta menanggapinya. 
  • Memberikan umpan balik terhadap hasil presentasi setiap kelompok dan memastikan bahwa setiap siswa dalam kelompok telah mengetahui cara menentukan luas bidang yang tidak beraturan dengan benar.


f. Fase 6: Memberikan Penghargaan

Berikut ini merupakan contoh kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yaitu:
  • Mengumumkan kelompok yang telah berkinerja baik atau terbaik. 
  • Memberikan “Tanda Bintang” kepada semua siswa dari anggota kelompok yang telah berkinerja terbaik. 
  • Meminta siswa yang telah memperoleh “Tanda Bintang” untuk menyimpan dan mengumpulkannya karena pada akhir semester, siswa yang mengumpulkan “Tanda Bintang” terbanyak memperoleh penghargaan.


2. Peran Guru dan Siswa dalam Pembelajaran Kooperatif

Peran guru dalam Pembelajaran Kooperatif dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: peran guru dalam perencanaan pembelajaran dan peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran.

Peran Guru dalam Perencanaan Pembelajaran Kooperatif

  • Memilih tipe pembelajaran kooperatif yang akan diterapkan dalam pembelajaran 
  • Membentuk kelompok kooperatif
  • - Memeringkat prestasi siswa
  • - Menentukan jumlah kelompok
  • - Mengelompokkan siswa
  • Mengembangkan materi atau LK 
  • Membuat pertanyaan-pertanyaan dalam “Kartu Soal” (khusus bagi guru yang akan menerapkan tipe TGT)

Peran Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif Pada dasarnya, peran guru dalam pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif sesuai dengan langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif seperti yang telah disajikan pada Bagan 3, yaitu:

  • Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa; 
  • Menyajikan informasi; 
  • Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar; 
  • Membimbing kelompok bekerja dan belajar; 
  • Melakukan evaluasi; 
  • Memberikan penghargaan.

Dalam Pembelajaran Kooperatif siswa juga memiliki peran yang dibagi dalam dua kategori, yaitu: peran membantu anggota kelompok menyelesaikan tugas belajar dan peran membantu anggota kelompok dalam menjalani proses mereka.

Peran siswa berorientasi-tugas:

  • Taskmaker – menjaga agar para anggota kelompok tetap pada tugasnya. 
  • Material monitor – mengambil dan mengembalikan bahanbahan. 
  • Coach atau content helper – membantu para anggota dalam hal isi pelajaran. 
  • Recorder – mencatat ide-ide, rencana-rencana, dan lain-lain.

Peran siswa berorientasi-proses:
  • Gatekeeper – membantu para anggota berbagi; menyetarakan partisipasi. 
  • Encourager – mendorong para anggota yang tampak enggan untuk berpartisipasi; memberikan pujian dan apresiasi untuk setiap penyelesaian. 
  • Checker – membantu para anggota memeriksa pemahaman. 
  • Reflector/timekeeper – mengingatkan para anggota tentang kemajuan yang sudah atau belum dapat dicapai.

Subscribe to receive free email updates: