Kisah Teladan Nabi, (Nabi Ayub AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS)

pembelajaranku.com
pembelajaranku.com
Salam Pembelajaran! Apa kabar teman-teman pembelajar, pembaharu masa depan. Pembelajaranku saat ini akan menjelaskan kisah teladan Nabi, dalam kesempatan ini ada tiga nabi yang akan kita jabarkan kisahnya yaitu kisah Nabi Ayyub AS, kisah Nabi Musa AS, dan kisah Nabi Isa AS semoga menjadi teladan untuk kita semua.


Kisah Teladan Nabi (Nabi Ayub AS, Nabi Musa AS, dan Nabi Isa AS)


Tahukah kamu kisah nabi-nabi Allah? Kamu tentu suka membaca kisah-kisah tentang nabi dan rasul Allah. Banyak teladan dan hikmah yang bisa kita ambil dari kisah para nabi dan rasul Allah. Oleh sebab itu, simaklah dan perhatikan kisah-kisah berikut, yakni kisah Nabi Ayub AS; kisah Nabi Musa AS; dan kisah Nabi Isa AS.

A. Kisah Nabi Ayub AS

Nama lengkap Nabi Ayub adalah Ayub bin Maush bin Ra’ail bin Alaish bin Ishaq bin Ibrahim. Dari ibunya, Ayub keturunan Nabi Luth AS. Secara nasab, Ayub keturunan dari para nabi. Nabi Ayub AS adalah seorang nabi yang kaya raya dan mempunyai binatang ternak yang bermacam-macam seperti kambing, sapi, kuda, keledai. 

Beliau pun dikaruniai putra yang banyak, baik laki-laki maupun perempuan. Ia hidup makmur dan sejahtera. Nabi Ayub AS dikenal dermawan dan gemar berbuat kebajikan, suka menolong orang yang menderita yakni fakir miskin, membantu anak yatim piatu, memuliakan tamu apabila datang ke rumahnya, dan selalu berbuat baik. 

Walaupun demikian, ia tetap tekun beribadah. Segala nikmat dan kesenangan yang dikaruniakan kepadanya tidak membuatnya melupakan Allah SWT, demikian juga istrinya Rahmah.Melihat keadaan Nabi Ayub AS yang begitu kokoh dan tekun beribadah kepada Allah SWT menjadikan Iblis, laknatullah datang menggoda dan menghancurkan keteguhan iman Nabi Ayub AS Iblis pun menghancurkan semua harta milik Nabi Ayub AS mulai dari kebun, hewan ternak, dan anak-anaknya semua meninggal.

Nabi Ayub AS akhirnya jatuh miskin. Meskipun demikian, keimanan Nabi Ayub AS tidaklah goncang, karena beliau ingat bahwa manusia lahir ke dunia tidak mempunyai apa-apa. Allah yang memberikan kekayaan dan rezeki kepada manusia. Harta benda itu dapatnya dari Allah dan kembalinya kepada Allah juga. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 155 -156:
Surah Al Baqarah ayat 155-156
Surah Al Baqarah ayat 155-156
Artinya :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (Q.S. Al-Baqarah : 155 -156)

Keimanan Nabi Ayub AS tidak dapat digoda oleh setan, sesuai dengan apa yang diterangkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa manusia itu tidak dapat tergoda oleh setan jika ia hamba Allah yang beriman.

Melihat kekokohan iman Nabi Ayub AS membuat Iblis semakin gusar dan mencari cara lain untuk menghancurkan keyakinan Nabi Ayub AS kepada Allah SWT. Iblis menebarkan penyakit di sekujur tubuh Nabi Ayub AS berupa kudis bernanah dari kepala hingga kakinya sehingga menimbulkan bau busuk menyengat hidung selama 7 tahun.

Kaum familinya, sahabat, dan tetangga telah menjauhinya selain istrinya yang masih setia, dia selalu ada di sampingnya. Rahmah, istrinya itu merupakan seorang istri yang sangat setia, taat, dan beriman kepada Allah SWT.Segala amal ibadah kepada Allah yang bisa dikerjakannya terus juga dikerjakannya semampunya. 

Nabi Ayub AS menderita penyakit kulit yang menjijikkan apabila orang melihatnya. Kaum amilinya, sahabat, dan tetangga telah menjauhinya selain istrinya yang masih setia, dia selalu ada di sampingnya. Istrinya itu bernama Rahmah seorang istri yang sangat setia, taat, dan beriman kepada Allah SWT.

Nabi Ayub AS tidak berkeluh kesah ketika menderita sakit. Bahkan, beliau tetap sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan yang datang kepadanya.Setelah Nabi Ayub AS diuji dengan kemiskinan dan kematian anak-anaknya kemudian Nabi Ayub AS diuji pula oleh Allah dengan penyakit yang lamanya 7 tahun. 

Beliaupun tidak berkeluh kesah ketika menderita sakit. Bahkan Nabi Ayub AS tetap sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan yang datang kepadanya. Segala amal ibadah kepada Allah yang bisa dikerjakannya terus juga dikerjakannya semampunya.

Iblis tidak senang melihat keadaan itu. Iblis pun mencari jalan lain yaitu menggoda Rahmah, istri Nabi Ayub AS yang setia itu agar jangan mau menunggui berlama-lama di dalam sakit.Karena kesabaran itu, setan tidak senang hati melihatnya. Setan mencari jalan lain yaitu istri Nabi Ayub AS yang setia itu digodanya agar jangan mau menunggui berlama-lama di dalam sakit. 

Lama kelamaan istrinya itu tergoda juga, dan ia agak enggan apabila disuruh oleh suaminya. Ia sudah tidak tahan menahan penderitaan. Pada suatu hari Rahmah pamit meninggalkan suaminya. Ia akan bekerja untuk menghidupi suaminya. Nabi Ayub AS melarangnya. Namun, Rahmah tetap pergi sambil berkeluh kesah.

Alangkah terkejut dan marahnya Nabi Ayub AS ketika melihat Rahmah kembali dalam keadaan botak lantaran rambutnya telah dijual. Nabi Ayub AS pun tambah marah manakala Rahmah memberikan sebotol arak yang diyakininya sebagai obat yang dapat menyembuhkan penyakit suaminya. Rahmah pun diusir oleh Nabi Ayub AS seraya berkata: “Keluar dan pergilah engkau, tinggalkan aku sendiri! Awas satu saat jika tubuhku sehat kembali akan kucambuk dirimu seratus kali ”.

Setelah ditinggal Rahmah, Nabi Ayub AS hidup seorang diri. Di dalam kamarnya dia berdoa kepada Allah SWT. Doa Nabi Ayub AS dimakbulkan Allah SWT. sebagaimana yang tersebut dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 83-84.
surah al anbiya ayat 83-84

Artinya :
dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang, Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”. (Q.S. Al-Anbiya : 83-84).

surah shad ayat 42-43

Artinya :
“Allah berfirman: Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S. Shad : 42-43).

Demikianlah, setelah Nabi Ayub AS minum dan mandi air yang memancar dari bawah kakinya, maka ia sembuh seperti sedia kala. Nabi Ayub AS bertemu kembali dengan Rahmah, istrinya. 

Tatkala Nabi Ayub AS hendak melaksanakan janjinya mencambuk istrinya seratus kali, datanglah perintah Allah SWT kepadanya: “Hai Ayub AS ambillah lidi seikat yang berjumlah 100 lidi, kemudian pukullah istrimu satu kali saja! Karena ia setia kepadamu. Dengan begitu, engkau tidak kena lagi oleh sumpahmu.” Berkat kesabaran dan keteguhan semuanya, Nabi Ayub AS dikaruniai lagi harta yang melimpah ruah.

B. Meneladani Ketabahan Nabi Ayub AS ketika Menderita Sakit


Kita telah membaca kisah Nabi Ayub AS yang sangat luar biasa tabah dan sabar dalam menghadapi ujian dari Allah SWT. Ibadahnya kepada Allah SWT tidak pernah bergeser seincipun. Nabi Ayub AS tetap istiqomah, ikhlas, dan sabar serta tawakal kepada Allah SWT. Kesabaran dan kesalehannya hendaknya menjadi contoh bagi umat manusia.

Oleh sebab itu, kamu yang sedang menjalani kehidupan di muka bumi ini bila mendapat musibah, tidak perlu berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Kita wajib ikhtiar mencari solusi atas musibah yang diterima seraya berdoa memohon pertolongan Allah SWT semata. 

Bila kamu dapat menyikapi musibah yang diterima dengan benar yakni bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT maka insyaallah pertolongan Allah SWT pasti datang. Bacalah surah Alam Nasyrah ayat 5 – 8 berikut ini:
surah alam nasyrah 5-8

Artinya:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Alam Nasyrah: 5 – 8).

C. Kisah Nabi Musa AS


Tugas kenabian yang diemban oleh Nabi Musa AS dapat dibaca dalam surah Ibrahim ayat 5 sebagai berikut.
Surat Ibrahim Ayat 5

Artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami (dan Kami perintahkan kepadanya); “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (Q.S. Ibrahim : 5)

Secara nasab, Nabi Musa AS adalah anak Imran bin Yashar, ibunya bernama Yukabad binti Qahat dari suku Bani Israil. Nabi Musa AS adalah keturunan keempat Nabi Yakub AS yang tinggal di Mesir sejak Nabi Yusuf AS berkuasa di Mesir. 

Pada waktu itu, penduduk Mesir terdiri atas dua suku bangsa, yaitu orang Qibti (bangsa asal Mesir) dan orang-orang Bani Israil. Orang-orang Qibti menduduki jabatanjabatan tinggi sedangkan orang Bani Israil hanya berkedudukan rendah seperti para buruh, pelayan, dan pesuruh.

Pada suatu malam, Fir’aun sebagai raja yang berkuasa di Mesir bermimpi. Dalam mimpinya, ia menyaksikan negeri Mesir hancur lebur dan hanya menyisakan orang-orang Bani Israil yang tetap hidup. Segeralah Fir’aun memanggil para ahli nujum untuk menafsirkan mimpi yang dialaminya. 

Para ahli nujum meramalkan bahwa akan datang seorang laki-laki dari Bani Israil yang akan menjatuhkan kekuasaannya. Mendengar hal itu, Fir’aun segera mengeluarkan undang-undang yang menyatakan bahwa setiap anak laki-laki yang lahir dari Bani Israil harus dibunuh.

Fir’aun adalah seorang raja yang zalim dan kejam. Fir’aun bahkan menobatkan dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya. Ia memerintah sekehendak hati. Rakyat dibuatnya selalu dalam ketakutan. 

Seluruh perintahnya harus ditaati, tidak ada seorang pun yang berani menentangnya, rakyat yang tidak mau menyembahnya akan disiksa, bahkan hingga hukuman mati. Allah SWT berfirman dalam surah Asy-Syu’ara’ ayat 29 sebagai berikut.
Artinya:
“Fir’aun berkata: Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.” (Q.S. Asy-Syu’ara’ : 29)

Oleh karena, Musa lahir pada masa berlakunya undang-undang Fir’aun, tentu saja Yukabad, ibunda Musa mengkhawatirkan keselamatan Musa yang masih bayi. Ketika kebingungan menyelimuti batin orang tua Musa, Allah SWT memberikan ilham kepada ibunda Musa agar menghanyutkan bayi yang masih kecil itu ke Sungai Nil dalam sebuah keranjang.

Setelah bayi dimasukkan ke keranjang, ibunda Musa lalu meng-hanyutkannya. Keranjang berisi bayi itu pun mengapung mengikuti aliran Sungai Nil. Tak disangka, justru keranjang berisi bayi, Musa, memasuki kolam istana Fir’aun. Saat itu, di kolam istana sedang ada Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun. 

Melihat ada keranjang yang masuk ke tempatnya, Asiyah mengambil keranjang dan dilihatnya ada Musa yang masih bayi. Asiyah merasa sangat senang dengan apa yang ditemukannya, Asiyah pun meminta kepada Fir’aun agar bayi itu dapat dirawat dan dibesarkannya. Bayi itu pun akhirnya diberi nama Musa.

Kemudian, Asiyah pun mencarikan perempuan yang sanggup menyusui Musa. Yukabad sebagai ibunda Musa mendengar hal itu, dan akhirnya ia diizinkan menyusui Musa. Sejak itulah Nabi Musa AS tinggal di Istana Fir’aun.

Suatu hari, menginjak usia dewasa, tanpa sengaja Musa yang sedang berjalanjalan di tengah kota menyaksikan suatu perdebatan antara seorang Qibti dengan seorang Bani Israil. Musa bermaksud melerai dan mendamaikan. Namun orang Qibti menolak dan mengancam Musa. 

Seketika dipukullah orang Qibti hingga roboh dan mati seketika. Nabi Musa AS menyesali perbuatannya, ia pun memohon ampun kepada Allah SWT. Mendengar peristiwa itu, Fir’aun marah dan memerintahkan tentaranya untuk menangkap Nabi Musa AS Namun, Musa AS telah menyingkir dari Mesir. Selama delapan hari delapan malam ia berjalan sampai akhirnya tibalah di sebuah kota bernama Madyan. 

Di sinilah Nabi Musa AS bertemu dengan Nabi Syu’aib AS Oleh Nabi Syu’aib AS, Musa dinikahkan dengan salah satu putrinya. Sebagai mas kawin, Musa harus bekerja sebagai pembantu keluarga Nabi Syu’aib selama 8 (delapan) tahun ditambah dua tahun.

Setelah hampir 10 tahun Musa meninggalkan Mesir, Nabi Musa AS merasa rindu akan negeri asalnya. Setelah semuanya ditunaikan dan mendapat izin Nabi Syu’aib AS,maka Musa beserta keluarganya pergi ke Mesir. Nabi Musa AS melalui jalan yang tidak umum agar tidak mudah dikenali orang-orang Fir’aun.

Setibanya di daerah Tursina, Musa tersesat. Ia melihat sinar api menyala-nyala di sebuah lereng bukit. Ia pun berjalan menghampiri ke arah sinar tersebut sementara istrinya menunggu di tempat semula. Api yang dilihatnya melekat di sebuah pohon namun pohonnya tidak terbakar. Nabi Musa AS di saat itulah menerima wahyu yang pertama. Bacalah surah Taha ayat 11-14.
Artinya:
“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci , Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu , maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Taha : 11-14)

Itulah wahyu pertama yang diterima langsung oleh Nabi Musa AS sebagai tanda dimulainya tugas kenabian. Setelah diangkat menjadi rasul, Musa diperintahkan oleh Allah untuk berdakwah mengajak Fir’aun beriman kepada Allah. Bersama Musa, Allah pun mengutus saudara sepupunya, Harun.

Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS mendakwahi Fir’aun agar mengakui Allah SWT. sebagai Tuhan semesta alam. Namun, Fir’aun membantah dan bahkan menantang Nabi Musa bertanding sihir dengan para tukang sihir kerajaan.

Mendapatkan tantangan itu, Nabi Musa AS kemudian melempar tongkatnya.Tongkat Nabi Musa AS pun berubah menjadi ular yang besar atas izin Allah SWT dan menelan semua ular para tukang sihir. Para tukang sihir pun tunduk dan beriman kepada Allah SWT. Asiyah, istri Fir’aun pun menyatakan tunduk dan beriman kepada Allah SWT.

Meski diperlihatkan mukjizat semacam itu, tetap saja Fir’aun tidak mau mengakui Allah SWT. Berikutnya, Nabi Musa AS memasukkan kedua tangannya ke saku baju. Begitu dikeluarkan, bersinarlah tangan Nabi Musa. Kilaunya membuat semua yang menyaksikan, termasuk Fir’aun, menutup mata. Setelah memperlihatkan itu semua, tetap saja Fir’aun tidak mau beriman kepada Allah SWT.

Melihat situasi demikian, akhirnya Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS pun  meninggalkan istana Fir’aun. Nabi Musa AS memohon kepada Allah SWT agar negeri yang telah makmur itu diubah. Akibatnya, kerajaan Fir’aun dilanda paceklik karena keringnya aliran Sungai Nil. Akibatnya, sawah dan ladang tidak bisa diairi. Sementara itu, ketika masuk masa panen, sawah dan ladang diserang hama yang ganas sehingga menghabiskan semuanya.

Usaha Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS tetap tidak menjadikan Fir’aun mau beriman kepada kekuasaan Allah SWT. Justru, kaum Bani Israil diperlakukan secara keras dan kejam. Tentu saja perilaku Fir’aun mendapat tentangan keras Nabi Musa AS Beliau terus menentang Fir’aun dan menuntut agar Fir’aun membebaskan Bani Israil.

Setelah ditimpa bencana berulang-ulang, akhirnya Fir’aun pun membebaskan Bani Israil. Kesempatan ini digunakan oleh Nabi Musa AS dan sepupunya untuk mengeluarkan Bani Israil dari Mesir. Bani Israil pun keluar dari Mesir dibimbing oleh Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS Mendengar Bani Israil telah bergerak keluar Mesir, Fir’aun pun memerintahkan langsung pasukannya untuk mengejar arak-arakan pengikut Nabi Musa AS Nabi Musa AS pada waktu itu beserta pengikutnya telah sampai di tepi Laut Merah.

Berita telah dekatnya Fir’aun dan pasukannya pun terdengar oleh pengikut Nabi Musa AS Mereka mulai bingung dan kehilangan harapan karena tertahan oleh Laut Merah. Dalam kebingungan mereka Nabi Musa mendapatkan wahyu agar memukulkan tongkatnya ke tepi Laut Merah. Nabi Musa pun melaksanakan wahyu itu. Tiba-tiba, setelah dipukul oleh tongkat Nabi Musa, Laut Merah terbelah. Nabi Musa AS dan pengikutnya bisa melalui Laut Merah.

Menjelang akhir pengikut Nabi Musa AS di tengah Laut Merah yang diseberangi, tampak pasukan Fir’aun mengejar. Pengikut-pengikut Nabi Musa pun bergegas menaiki tepian seberang Laut Merah. Ketika itulah Nabi Musa kembali memukulkan tongkatnya ke Laut Merah. Hasilnya, Laut Merah menutup kembali, menyatu, menggulung Fir’aun beserta pasukannya. Fir’aun pun tidak dapat diselamatkan. Ia mati tenggelam bersama pasukannya membawa kekafiran.

Allah berfirman dalam surah Yunus ayat 90.

Artinya:
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas mereka....” (Q.S. Yunus : 90)

Peristiwa di Laut Merah inilah yang mengungkapkan bahwa Fir’aun akhirnya mengakui tidak ada Tuhan kecuali Allah. Hanya saja, pernyataan itu telah terlambat. Sebagai pembelajaran bagi umat, maka jasad Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah diselamatkan dan dapat dilihat di Musium Mesir. Bacalah surah Yunus ayat 92 berikut ini.

Artinya:
“Maka pada hari ini, Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Q.S. Yunus : 92)

Sesudah selamat dari kejaran Fir’aun, Musa dan pengikutnya meneruskan perjalanan. Banyak mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada umat Bani Israil, misalnya: Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya ke batu, maka dari batu itu memancarlah air yang dapat mereka minum, naungan awan yang melindungi perjalanan mereka sehingga tidak kepanasan sewaktu di Semenanjung Sinai.

Demikian pula, ketika bekal makanan habis. Allah kemudian memberi mereka makanan berupa Manna dan Salwa. Manna rasanya manis seperti madu. Adapun Salwa adalah burung puyuh yang datang silih berganti. Mendapat makanan yang baik itu mereka bukannya bersyukur malah mau minta makanan lain lagi.

Kini tibalah saatnya bagi Nabi Musa AS untuk menerima wahyu Allah. Lalu Nabi Musa naik ke Bukit Tursina untuk berkhalwat berpuasa selama empat puluh hari. Di atas bukit itu Nabi Musa AS memohon kepada Allah, “Ya Tuhanku, dapatkah aku melihat Engkau?” Allah berfirman, “Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cobalah lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya maka kamu akan dapat melihat-Ku.” Lalu Nabi Musa AS menoleh ke arah bukit atau gunung yang dimaksud.

Seketika gunung yang dilihat hancur luluh tanpa meninggalkan bekas. Gemetar seluruh tubuh Nabi Musa AS dan ia jatuh pingsan. Setelah sadar, Nabi Musa AS bertasbih dan bertahmid seraya memohon ampun atas kelancangannya itu.

Allah SWT. menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa AS yang berupa kepingan-kepingan batu. Di dalamnya tertulis pedoman hidup dan penuntun beribadah kepada Allah SWT.

D. Keteladanan Nabi Musa AS


Salah satu hikmah terpenting yang dapat kita ambil dari kisah tersebut adalah keteguhan iman Nabi Musa AS serta keberaniannya menghadapi langsung raja yang berkuasa, yaitu Fir’aun. Meski Fir’aun adalah raja, Musa AS tidak takut. Beliau tetap menyampaikan kebenaran dan mengajak Fir’aun untuk menyembah Allah SWT. 

Keberanian menyampaikan hal-hal yang benar harus kamu teladani dari Nabi Musa AS Kamu harus berani berkata benar. Kamu pun harus berani mengingatkan teman-temanmu apabila berbuat salah. Kamu pun harus punya keberanian untuk bertanya kepada gurumu mengenai pelajaran yang belum kamu pahami. Begitulah teladan keberanian yang diperlihatkan oleh Nabi Musa AS kepada kita.

E. Kisah Nabi Isa AS


Nabi Isa AS merupakan nabi yang lahir tanpa ayah. Mukjizat ini merupakan karunia yang besar yang dititipkan oleh Allah SWT ke dalam rahim ibunda yang bernama Maryam.

Ayahanda Maryam adalah Imran, seorang pemuka Bani Israil. Ibunya bernama Hanah. Imran berdoa kepada Allah memohon seorang putra. Allah berkehendak lain. Yang dilahirkan adalah seorang putri bernama Maryam yang artinya “tidak tercela” atau juga “hamba Tuhan”.

Imran dan Hanah mengasuh Maryam dengan penuh cinta dan kasih sayang. Imran pun wafat maka Hanah menyerahkan Maryam kepada Nabi Zakaria agar ia mengabdi di Baitul Maqdis. Nabi Zakaria menempatkan Maryam di sebuah mihrab, yaitu tempat yang mulia di Baitul Maqdis. Maryam pun tumbuh menjadi putri yang sehat dan saleh. Ia selalu beribadah kepada Allah dan senantiasa berada di mihrab.

Kesalehan Maryam menjadikannya ia mendapat keistimewaan dari Allah SWT berupa hidangan buah-buahan dan minuman surga yang dikirim malaikat Jibril. Nabi Zakaria yang masuk ke mihrab pun menjadi heran dan bertanya tentang makanan yang telah ada di samping Maryam. Maryam menjawab bahwa makanan ini dari Allah. Sesungguhnya Allah akan memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan.”

Firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ali-’Imran ayat 42 berbunyi:

Artinya:
“Dan ingatlah ketika malaikat Jibril berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)”. (Q.S. Ali-’Imran : 42)

Kelahiran Nabi Isa AS didahului suatu peristiwa yang dialami Maryam ketika sedang berada di mihrab. Kisah ini dapat dibaca dalam Al-Qur’an surah Maryam ayat 17 – 26. Ringkasnya sebagai berikut: Maryam yang didekati oleh seorang laki-laki yang tidak dikenalnya merasa pemuda itu akan mengganggunya. Maryam pun berkata,–“Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Tuhan yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”

Pemuda yang ternyata malaikat Jibril pun berkata, “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Maryam kemudian berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina.” Malaikat Jibril kembali berkata, “hal itu adalah mudah bagi Allah.”

Setelah peristiwa itu, Maryam pun mengandung bayi Isa. Untuk menghindari bahan ejekan orang lain, Maryam pun meninggalkan Baitul Maqdis menuju tempat kelahirannya di desa Annashirah.

Ketika mau melahirkan, Maryam meninggalkan tempatnya mencari tempat sepi yang jauh dari keramaian. Ia pun kemudian berteduh di bawah pohon kurma. Di tempat seperti itulah, lahirlah bayi yang dikandungnya dalam keadaan selamat. Bayi itu diberi nama Isa dan tempat kelahiran Isa dinamai Bait Al-Lahmi (Betlehem) yang artinya “tempat lahir”.

Ketika Maryam merasa lapar dan haus. Tiba-tiba, terdengar suara malaikat Jibril berkata “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. 

Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “ Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.”

Setelah makan dan minum, tubuh Maryam pun terasa bugar. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.” 

Mereka pun bertanya dan mengolok-olok keberadaan bayi Maryam. Maryam hanya terdiam, dan ia hanya menunjuk ke arah bayi. Maksudnya, biar bayinya yang memberikan jawaban. Salah seorang pun berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil
yang masih di dalam ayunan?”

Peristiwa ini dapat dibaca dalam Al-Qur’an surah Maryam ayat 30 – 33, yang terjemahnya sebagai berikut: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Pada masa kanak-kanak, kelebihan dan keistimewaan Nabi Isa AS telah tampak dibanding teman-teman sebayanya. Nabi Isa AS tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan mampu mengetahui terlebih dahulu apa-apa yang akan diterangkan oleh guru-gurunya.

Ketika usia telah mencapai 30 tahun, Isa AS menerima tugas kenabiannya di atas Bukit Zaitun pada saat ia bersama Maryam, ibundanya. Setelah itu, Nabi Isa AS memberitahukan kenabian dan kerasulannya pada Bani Israil. Ajaran-ajaran agama yang disampaikan Nabi Isa AS berdasarkan wahyu Allah. Kumpulan wahyu Allah SWT yang diterima oleh Nabi Isa AS terdapat di dalam kitab suci Injil, yang artinya kabar yang baik.

Nabi Isa AS mengajak Bani Israil untuk kembali kepada syariat Nabi Musa yang asli, yakni hanya menyembah kepada Allah SWT. Ajakan ini mendapat tentangan dari para pendeta dan pemuka-pemuka Bani Israil yang telah mengubah syariat Nabi Musa. Mereka lalu menghasut rakyat dengan cara memfitnah Nabi Isa AS. 

Nabi Isa AS tetap terus berdakwah. Dalam perjalanan dakwahnya, Nabi Isa AS mengunjungi Baitul Maqdis. Di tempat inilah banyak orang berkumpul. Dengan demikian dakwahnya akan lebih banyak di dengar orang. Terlebih lagi, Nabi Isa AS diberikan beberapa kelebihan dan mukjizat oleh Allah SWT antara lain:
1. dapat menghidupkan orang mati atas izin Allah SWT.
2. dapat menyembuhkan orang buta, tuli, dan penyakit lepra.
3. dapat menurunkan makanan dan minuman dari langit.
4. mampu membuat burung dari tanah dan menghidupkannya.

Keistimewaan yang dimilikinya itulah membuat makin lama pengikut Nabi Isa AS terus bertambah banyak. Kondisi ini membuat para pendeta dan pemuka-pemuka Bani Israil berang dan marah. 

Mereka pun lalu bersekongkol menyusun rencana memfitnah Nabi Isa AS dihadapan penguasa Romawi. Mereka menghasut penguasa Romawi agar menangkap dan menghukum Nabi Isa AS sebab disiarkan kabar bahwa Nabi Isa AS akan memberontak terhadap penguasa Romawi.

Terjadilah pengkhianatan berupa salah seorang murid Nabi Isa, Yahuza (Yudas Iskariot) yang memberitahukan tempat Nabi Isa AS berkumpul dengan pengikutnya. Seketika itu pula, pasukan Romawi diturunkan ke tempat yang ditunjuk oleh Yahuza (si pengkhianat). Beruntung, sebelum pasukan Romawi datang, pengikut-pengikut Nabi Isa telah meninggalkan tempat yang ditunjukkan Yahuza.

Ketika detik-detik terakhir pasukan Romawi menyerbu ke tempat Nabi Isa AS berada, sesungguhnya pada saat itu Allah SWT. menunjukkan kekuasaan-Nya telah mengangkat Nabi Isa AS ke sisi-Nya. Sebagai gantinya, si pengkhianat, yaitu Yahuza telah diserupakan wajahnya oleh Allah seperti Nabi Isa AS Pasukan Romawi menyeret ke tengah lapangan orang yang mengaku bukan Nabi Isa. 

Orang itu pun akhirnya disalib di tiang salib yang berdiri kukuh di Bukit Golgota. Masyarakat banyak yang menyoraki bahkan melemparinya dengan kotoran. Sejak disalib hingga mati orang yang diserupakan seperti Nabi Isa itu tetap mengaku dirinya bukan Nabi Isa. Jadi, siapakah dia? Dia adalah si Pengkhianat, yaitu Yahuza yang diserupakan oleh Allah yang menggantikan Nabi Isa AS disalib. Ia mendapat hasil perbuatannya.

F. Keteladanan Nabi Isa AS


Hikmah yang dapat kita peroleh dari kisah Nabi Isa AS antara lain adalah keteguhan Nabi Isa AS dalam berdakwah di kalangan kaum Bani Israil yang telah menyimpang dari ajaran Nabi Musa a.s yakni hanya menyembah Allah SWT. Nabi Isa AS Ia tidak putus asa meski mendapat tentangan dari pemuka-pemuka agama Yahudi. Nabi Isa AS suka menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Contohnya, ada orang buta yang beliau sembuhkan matanya sehingga bisa melihat dengan izin Allah. Begitu pula, ketika di suatu tempat Nabi Isa AS didatangi seseorang yang menanyakan tentang siapa pembunuh seseorang yang telah meninggal.  

Nabi Isa kemudian menolong orang tersebut dengan cara memerintahkannya mencari seekor sapi lalu meminta potongan ekornya. Setelah potongan ekor sapi itu ada di tangan Nabi Isa, lalu ia pukulkan ke badan mayat. Atas izin Allah, mayat itu pun hidup kembali dan memberitahu siapa pembunuhnya.

Teladan yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Isa AS misalnya tidak mudah putus asa dalam segala hal dalam menjalani hidup. Kamu pun harus bisa seperti itu. Begitu juga Nabi Isa selalu ringan tangan, menolong sesama yang membutuhkan. Kamu pun harus bisa menolong siapa pun yang memang membutuhkan bantuan dan pertolongan.
pembelajaranku.com

Subscribe to receive free email updates: