Dasar Penetapan Kelulusan CPNS BKN



Penjelasan Mengenai Dasar Penetapan Kelulusan CPNS BKN


Hasil akhir seleksi CPNS BKN 2017 yang diterbitkan melalui Pengumuman Nomor: 06/PENG.1/PANPEL.BKN/XII/2017 Rabu, 06 Desember 2017 melalui website resmi BKN memunculkan sejumlah pertanyaan publik yang disampaikan melalui media sosial BKN dan call center BKN Pusat. 

Pertanyaan yang masuk kebanyakan mengenai informasi yang tertuang dalam lembar pengumuman dan meminta penjelasan hasil perhitungan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

Untuk itu Kepala Biro Humas BKN Mohammad Ridwan menyampaikan keterangan dan jawaban atas sejumlah pertanyaan pelamar CPNS BKN 2017. Sebelumnya perlu disampaikan bahwa Panitia Seleksi BKN tidak dapat menuangkan penjelasan rinci dalam lampiran pengumuman yang sudah disampaikan karena template lampiran pengumuman sudah ditetapkan dari Kementerian PANRB selaku Ketua Tim Pengarah Panitia Seleksi CPNS Nasional (Panselnas). 

Dasar Penetapan Kelulusan CPNS BKN


Selanjutnya perlu kami sampaikan bahwa dasar kalkulasi hasil nilai SKB dilakukan berdasarkan Pedoman Pelaksanaan SKB CPNS BKN Tahun 2017 yang disusun oleh Panitia Rekrutmen CPNS di lingkungan BKN Tahun Anggaran 2017.

Berikut penjelasan terperinci mengenai poin-poin yang dituangkan dalam lampiran pengumuman Hasil Seleksi CPNS BKN 2017 :

Integrasi nilai didasarkan pada regulasi yang tertuang dalam PermenpanRB Nomor 20 Tahun 2017 tentang Kriteria Penetapan Kebutuhan PNS dan Pelaksanaan Seleksi CPNS 2017.

Dalam regulasi itu ditentukan sebagai berikut:

Bobot SKD 40% dan SKB 60%


Integrasi nilai diambil dari perhitungan total SKD 40% + total SKB 60%
Total SKD dihitung berdasarkan skor yang diperoleh dibagi porsentase skor tertinggi (500) dan dikali dengan bobot SKD 40%

Total SKB diperinci menjadi 60% hasil tes CAT (SKB 1) dan 40% hasil wawancara/jenis tes lainnya (SKB 2).

Penjelasan kode-kode dalam lampiran

  1. L: Lulus pada jenis formasi yang dilamar (misalnya pada jenis formasi disabilitas dan ybs lulus berasal/melamar dari disabilitas maka kodenya tetap L)
  2. L-1: Lulus memenuhi lowongan kosong yang berasal dari formasi umum
  3. L-8: Lulus memenuhi lowongan kosong yang berasal dari formasi disabilitas
  4. L-9: Lulus memenuhi lowongan kosong yang berasal dari formasi cumlaude
  5. L-P: Lulus memenuhi lowongan kosong yang berasal dari formasi Putera/i Papua

Contoh: Jika dalam kolom pengumuman muncul keterangan L-1, artinya formasi cumlaude yang tidak terpenuhi diambil dari pelamar formasi umum dengan jabatan yang bersesuaian dengan yang ditawarkan pada formasi cumlaude.

Formula perhitungan nilai dan dan integrasi nilai dari masing-masing total nilai SKD dan SKB, misalnya:

SKD → 377 maka nilainya menjadi 377/500×100= 75,4 → 75,4 x 40% = 30,16

Penjelasannya adalah sebagai berikut :          
  • 377 diambil dari skor SKD
  • 500 diambil dari porsentase nilai SKD tertinggi 500
  • 40% diambil dari bobot nilai SKD
  • 30,16 merupakan nilai total SKD


SKB 1 (menggunakan CAT) → 221 maka nilainya menjadi 221/500×100= 44,2 → 44,2 x 60% = 26,52

SKB 2 (wawancara) → 80 maka nilainya menjadi 80 x 40% = 32

Total Nilai SKB → SKB 1 (26,52) + SKB 2 (32) = 58,52 → 58,52 x 60% = 35,122

Penjelasannya adalah sebagai berikut :
  • 221 diambil dari skor SKB CAT
  • 500 diambil dari porsentase nilai SKB tertinggi 500
  • 60% diambil dari pembagian bobot hasil SKB 1 (CAT) dan SKB 2 (wawancara) dimana untuk SKB 1 diberi bobot 60%
  • 80 diambil dari nilai wawancara
  • 40% diambil dari pembagian bobot hasil SKB 1 (CAT) dan SKB 2 (wawancara) dimana untuk SKB 2 diberi bobot 40%
  • 35,122% nilai total SKB (setelah dikalikan bobot 60%)


Nilai Akhir


Integrasi SKD 40% + SKB 60% :
30,16 + 35,122 = 65,272

Demikian penjelasan ini kami sampaikan sebagai realisasi komitmen transparansi dalam pelaksanaan rekrutmen CPNS 2017. Jika masih ada hal-hal yang membutuhkan penjelasan dapat menghubungi Humas BKN. (des/bkn.go.id)
Loading...