5 Unsur Intrinsik Cerpen

Menjelaskan Unsur-unsur Intrinsik Cerpen, unsur intrinsik cerpen, unsur intrinsik, unsur intrinsik novel, unsur unsur intrinsik, pengertian unsur intrinsik, contoh unsur intrinsik cerpen, intrinsik, cerpen beserta unsur intrinsik, cerpen dengan unsur intrinsik


5 Unsur Intrinsik Cerpen


Kamu tentu pernah membaca cerpen dan materi pelajaran tentang cerpen telah kamu terima dan kamu pelajari pada kelas terdahulu. Masih ingatkah kamu definisi tentang cerpen dan apa saja unsur-unsur yang ada di dalamnya? 
Cerpen merupakan salah satu jenis prosa fiksi yang dalam proses penganalisisannya tidak terlepas dari unsur-unsur yang terkandung dalam fiksi, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik (Wellek dan Warren, 1980).
Unsur intrinsik merupakan unsur-unsur yang ada dan terangkai di dalam karya sastra itu sendiri, yang meliputi tokoh dan penokohan, alur cerita, latar cerita, sudut pandang penceritaan, dan tema penceritaan. Sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur-unsur yang ada dan terangkai di luar karya sastra, yang meliputi status sosial, nilai budaya, nilai moral, nilai religius, dan unsur-unsur lainnya (Sudjiman, 1991).

1. Tokoh dan Penokohan

Istilah tokoh merujuk pada pelaku yang dimunculkan dalam penceritaan. Tokoh seperti halnya manusia dalam kehidupan seharihari, memiliki watak dan karakteristik tertentu. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita memiliki peranan yang berbeda-beda, antagonis-protagonis, tokoh utama-bawahan, tokoh atasan bawahan. Penggambaran tokoh tidak harus secara fisik tapi juga watak yang dilukiskan melalui tabiat, sikap dan perbuatan. Pengarang juga menggunakan beberapa teknik dan cara untuk menghadirkan tokoh dalam novel yang dihasilkan.

Contoh
Sungguhpun Datuk Maringgih seorang yang kaya raya, tapi tiadalah ia berbangsa tinggi. Konon kabarnya, tatkala mudanya ia sangat miskin. Bagaimana ia boleh menjadi kaya sedemikian itu, tiadalah seorang juga yang tahu, lain daripada itu ia sendiri. Suatu sifat yang ada padanya, yang dapat menambah kekayaannya itu, ialah ia amat sangat kikir. Perkara uang sesen, maulah ia rasanya berbunuhan. Jika hendak mengeluarkan duitnya dibolak-balikannya dahulu uang itu beberapa kali sebagai tak dapat ia bercerai dengan mata uang itu, seraya berkata dalam hatinya “Aku berikanlah uang ini atau tidak?”
Siti Nurbaya
Siti Nurbaya

2. Alur Penceritaan

Alur dalam penceritaan memuat rangkaian peristiwa yang tidak hanya diamati dari temporalnya namun juga keterkaitan hubungan antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Secara umum alur penceritaan memuat bagian awal, yang meliputi paparan, rangsangan, gawatan - tengah, yang meliputi tikaian, rumitan, klimaks - akhir, yang meliputi leraian dan selesaian. Berdasarkan ragamnya, alur cerita dibedakan atas alur maju dan alur mundur.

Contoh
“Kalau tidak salah, di sana juga tinggal seorang pelukis”.
“Anda mengetahui dia juga?” tanya Rama Beick; duduknya tibatiba
beringsut menghadap ke arahku. Sekilas penggalan prosa di atas seolah hanya sebuah percakapan antara dua orang saja, namun jika diperhatikan terdapat flash back atas sebuah peristiwa yang telah terjadi.

3. Latar Penceritaan

Sebuah peristiwa yang terjadi akan selalu ada dalam ruang dan waktu. Unsur yang menunjukkan kepada kita di mana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung di sebut latar. Deskripsi latar dalam karya sastra dibedakan atas tiga bagian, yaitu latar tempat, latar waktu dan latar budaya.

Contoh
Cahaya purnama menyelinap di antara pelepah-pelepah kelapa dan membasuh bangunan suci pura. Seperti biasa, Mangku Teguh melakukan kewajibannya memimpin umat persembahyangan purnama. Malam itu tidak banyak umat yang hadir ke pura.
....
Persembahyangan usai lebih awal dari biasanya. Bulan purnama kini tepat berada di atas pura. Malam telah larut. Setelah pura sepi, Mangku Teguh datang ke tanah pelaba yang bersebelahan dengan pura. Bayang-bayang pohon kelapa saling silang di bawah cahaya purnama. Deru laut sayup-sayup terdengar bagi mantra yang biasa dilantunkannya saat memimpin persembahyangan umat.

Penggalan di atas menggambarkan tentang latar tempat (pelaba pura, tempat persembahyangan umat Hindu di pulau Bali) sekaligus latar waktu (Malam bulan purnama) dan latar budaya yang mengarah pada nilai religius (persembahyangan malam purnama).


4. Sudut Pandang Penceritaan

Sudut pandang menyangkut masalah teknik bercerita, yaitu bagaimana pandangan pribadi pengarang akan dapat terungkapkan sebaik-baiknya dalam cerita. Secara garis besar sudut pandang dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, sudut pandang orang pertama: akuan. Kedua, sudut pandang orang ketiga: diaan.

Contoh 1 Menggunakan sudut pandang akuan

“Aku tidak akan sudi meneken surat itu. Biar aku diancam pakai pistol, aku tidak akan mundur”, seru Mangku Teguh, seakan mengadu pada jejeran pohon kelapa di depannya.

Contoh 2, menggunakan sudut pandang diaan

“Dibandingkan dengan angkatannya, ia sudah dipandang sangat terlambat memperoleh istri. Bukan karena telunjuknya bengkok ataupun kompong, melainkan karena idealismenya yang meluap-luap dalam lapangan sosial kebudayaan. Ketika ia menyadari bahwa perjuangan takkan selesai meski ia akan hidup terus sebagai jejaka, namun untuk memperoleh seorang istri tidak begitu mudah baginya.”

Penggalan di atas cukup mewakili sudut pandang penceritaan akuan dan diaan.

5. Tema Penceritaan

Dalam pengertiannya yang paling sederhana, tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Wujud tema dalam karya sastra, biasanya, berpangkal pada alasan tindak atau motif tokoh. Tema dalam karya sastra umumnya diklasifikasikan menjadi lima jenis, yakni tema physical ‘jasmaniah’, tema organic ‘moral’, social ‘sosial’, egoic ‘egoik’, dan divine ‘ketuhanan.’ 

Tentu, tema fiksi masih dapat diklasifikasikan dengan cara selain ini, misalnya tema tradisional dan tema modern. Klasifikasi di atas lebih merupakan pembagian yang didasarkan pada subjek atau pokok pembicaraan dalam fiksi.

Silahkan baca juga : 6 Ciri Umum Cerita Fantasi
Loading...