Kerajaan Islam di Indonesia (Kerajaan Islam di Aceh, Makasar, Demak)

Kerajaan Islam di Indonesia, Kesultanan Makasar, kerajaan makasar, kerajaan gowa tallo, kerajaan gowa, kerajaan islam di aceh, kesultanan aceh, kerajaan aceh, kerajaan islam tertua di indonesia

Kerajaan Islam di Indonesia

Beberapa sumber berita dari para rahib Buddha asal Cina yang biasanya singgah di Sriwijaya sebelum pergi ke India untuk belajar mencatat bahwa para rahib biasanya menumpang kapalkapal
milik para pedagang Arab.Selain itu, mengingat bahwa banyak orang Indonesia pada zaman tersebut yang berprofesi sebagaipelaut, dapat dipastikan bahwa orang-orang Indonesia juga telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Arab, seperti Jeddah dan Bagdad. Ini dapat dilacak dari berbagai sumber berita dari India, Arab,dan Cina. Sebuah kitab Cina berjudul Chiu Thang ‘Shu menceritakan bahwa di sepanjang pantai timur Sumatra pada abad ke-7 telah berdiri perkampungan orang orang Arab.


Karena banyaknya perkampungan orang Arab di kawasan pelabuhan, maka terjadi pula kontak kebudayaan dan komunikasi antara para pedagang Arab yang beragama Islam dengan penduduk Indonesia yang saat itu kebanyakan menganut agama Hindu dan Buddha. Kemudian, perkampung-
an-perkampungan Arab tersebut lebih berkembang lagi karena terjadi perkawinan antara pedagang muslim dengan penduduk lokal, sehingga perkampungan pun menjadi lebih padat dan besar.

A. Kesultanan Samudra Pasai


Sumber sejarah Kesultanan Samudera Pasai antara lain diperoleh dari batunisan Sultan Malik al-Saleh yang  berangka  tahun 696 H atau 1297 M, catatan Marcopolo (seorang pedagang dari Venesia)  yang singgah di  Perlak tahun1292 M, dan catatan Ibnu Batutah (seorang penjelajah dari Maroko)  yang pernah singgah di Samudera Pasai tahun 1345 dan 1346M.

Perekonomian masyarakat Samudera Pasai tergantung dari perdagangan. Letaknya yang berdekatan dengan Selat Malaka dimanfaatkan untuk kemajuan ekonomi. Banyak pedagang dari berbagai negara seperti Cina, Arab, Persia,Siam, Turki, Gujarat dan lainnya yang berlabuh dipelabuhan Samudera Pasai. Untuk itu, Samudera Pasai berusaha menyiapkan bandar-bandar sebagai pusat perdagangan. Kapal-kapal yang singgah dan melakukan bongkar  muat, harus membayar pajak. Adapun barang yang diperdagangkan adalah lada, sutra, dan kapur barus.

Dalam bidang  keagamaan, Ibnu Batutah menyebutkan bahwa Kesultanan Samudera Pasai dikunjungi oleh ulama dari Persia, Syiria  dan Isfahan. Ia juga menyebutkan bahwa sultan Samudera Pasai  sangat taat beragamadan menganut mazhab Syafi’i. Selain itu, Marcopol menyebutkan bahwa masyarakat di daerah Perlak sebagian besar telah beragama Islam. KesultananSamudera Pasai mempunyai peran penting dalam penyebaran Islam di AsiaTenggara. Hal ini tampak pada upaya Samudera Pasai dalam menyebarkan Islam ke Malaka dan Patani.

B. Kesultanan Aceh Darussalam

Aceh Darussalam
Aceh Darussalam


Kesultanan Aceh didirikan pada tahun 1513 M oleh Sultan Ali Mughayat Syah.  Berdasarkan berita Portugis, Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah berhasil memasukkan kerajaan Daya ke dalam kekuasaan Aceh  Darussalam pada tahun 1520 M. Kemudian Pedir dan Samudera Pasai ditaklukkan pada tahun 1524 M. Kesultanan Aceh Darussalam menyerang kapal Portugis di bawah komandan Simao de Souza Galvao di BandarAceh PadaTahun 1529M kerajaan Aceh mengadakan persiapan untuk menyerang Portugis di Malaka, tetapi tidak  jadi karena Sultan Ali Mughayat Syah wafat pada tahun 1530M.

Perkembangan kesultanan Aceh erat kaitannya dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Sejak Malaka dikuasai Portugis, para pedagang Muslim menghindari Selat Malaka dan beralih menyusuri pesisir barat Sumatra, ke Selat Sunda, lalu terus ke timur Indonesia atau langsung ke Cina. Hal ini mendorong perekonomian masyarakat Aceh berkembang pesat dan menjadikan Aceh sebagai bandar transit lada dari Sumatra dan rempah-rempah dari Maluku. Untuk mempertahankan kedudukannya, Aceh membangun armada laut yang kuat dan menjalin hubungan dengan kesultanan Islam di Timur Tengah seperti, Turki Utsmani, Abessinia dan Mesir.

Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636 M. Kesultanan Aceh berhasil menguasai daerah-daerah di pesisir timur dan barat Sumatra, serta pesisir barat Semenanjung Melayu, seperti Johor dan Pahang. Pada tahun 1629 M, Sultan Iskandar Muda berupaya merebut Malaka dari Portugis. Namun upayanya gagal karena kekuatan Portugis lebih unggul.

Sultan Iskandar digantikan oleh Sultan Iskandar Thani yang memerintah tahun 1636 – 1641 M. Pada masa pemerintahannya, kejayaan Kesultanan Acehsemakin meningkat.Namun, berbeda dengan pendahulunya,Sultan Iskandar Thani lebih mementingkan pengembangan di dalam negerinya.Pada masa ini bidang keagamaan berkembang yang didukung oleh kehadiran seorang ulama besar bernama Nuruddin ar-Raniri. Sepeninggal Sultan Iskandar Thani, Aceh lambat laun mulai mengalami kemunduran. Meskipun demikian, Kesultanan Aceh dapat bertahan sampai awal abad ke-20 M.

C. Kesultanan Makassar

Kesultanan Makassar merupakan kesultanan Islam yang terletak di Sulawesi Selatan.Kesultanan Makassar berawal dari kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo. Kedua kerajaan ini kemudian bergabung menjadi satu dibawah pimpinan raja Gowa.Adapun raja Tallo menjadi mangkubumi. Setelah  menganut Islam, kerajaan tersebut menjadi Kesultanan Makassar.Kesultanan Makassar kemudian berkembang menjadipusat perdagangan di Indonesia bagian  Timur. Hal ini disebabkan letak Makasar yang strategis dan menjadi bandar penghubung antara Malaka, Jawa, dan Maluku sehingga ramai dikunjungi pedagang-pedagang dari dalam dan luar negeri.

Kesultanan Makassar mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin tahun 1653–1669 M.Ia berhasil membangun Makassar menjadi penguasa jalur perdagangan di wilayah Indonesia Bagian Timur. Pada tahun 1660 M, terjadi perang Makassar. Perang ini disebabkan oleh persaingan antara kesultanan Makassar dan kerajaan Bone yang mendapat dukungan dari VOC Belanda. Selain itu perilaku orang-orang Belanda yang menghalang-halangi pelaut Makasar membeli rempah-rempah dari Maluku.

dan mencoba ingin memonopoli perdagangan juga menjadi terjadi penyebab perang Makassar. Dalam perang ini kesultanan Makassar mengalami kekalahan dan terpaksa menanadatangani perjanjian Bongaya yang sangat merugikan kesultanan Makassar.

D. Kesultanan Demak

Kesultanan Demak merupakan kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa. Kesultanan ini didirikan sekitar abad ke-15 M oleh Raden Patah yang merupakan keturunan Raja Brawijaya V, raja terakhir dari kerajaan Majapahit. Awalnya Demak merupakan wilayah dari kerajaan Majapahit. Seiring dengan kemunduran Majapahit, Demak menjadi kawasan mandiri yang kemudian menjadi sebuah kesultanan.Wilayah-wilayah di pantai utara Jawa yang sudah menganut Islam berada di bawah pengaruh Demak.Pengaruh Kesultanan Demak kemudian meluas ke Sukadana (Kalimantan Selatan), Palembang, dan Jambi.

Kehidupan ekonomi masyarakat Demak bersumber pada pertanian, perdagangan dan pelayaran. Pengalihan jalur perdagangan setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, membuat pelabuhan-pelabuhan di wilayah kesultanan Demak seperti Jepara, Tuban, Sedayu, dan  Gresik berkembang menjadi pelabuhan transito (penghubung) dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah.  Pada tahun 1512 M dan 1513 M, Demak mengirim pasukan dibawah pimpinan Adipati Yunus untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan Portugis dan menguasai perdagangan di Selat Malaka. Namun upaya ini gagal karena kekuatan Portugis lebih unggul.

Dalam bidang keagamaan, kesultanan Demak berperan sebagai pusat penyebaran agama Islam.Di Pulau Jawa, penyebaran Islam didukung oleh para wali yang dikenal dengan Wali Songo. Beberapa anggota Wali Songo berasal dari Demak, yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Murya. Mereka berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kesultanan Demak juga berusaha menyebarkan Islam di luar Pulau Jawa seperti Maluku, dan Kalimantan. Penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh Sunan Giri. Adapun di Kalimantan, penyebaran Islam dilakukan oleh seorang penghulu yang bernama Tunggang Pararangan.

Kesultanan Demak mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Trenggana. Pada masa pemerintahannya, kekuasaan Demak meliputi sebagian Jawa Barat, Jayakarta, Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Penaklukkan pesisir utara Jawa Barat dilakukan oleh Fatahillah yang turut merintis berdirinya kesultanan Banten dan Cirebon. Setelah Sultan Trenggana wafat, Kesultanan Demak mengalami kemunduran. Salah satu penyebabnyaadalah konflik dalam keluarga kesultanan yang memperebutkan tahta Demak.Konflik berakhir setelah Jaka Tingkir (Adipati Pajang sekaligus menantu Sultan Trenggono) meredam pemberontakan Aria Panangsang yang menginginkan tahta Demak.Jaka Tingkir kemudian memindahkan pusat pemerintahan Demak ke daerah Pajang.

Baca juga : Peristiwa Penting sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Subscribe to receive free email updates: